Bahlil Lahadalia Dianggap “Gila dan Akan jadi Gembel” Karena Lepas Gaji Rp 35 Juta di Usia Muda,

Mataradar.com – Di usia yang terbilang muda, yakni saat menginjak 25 tahun, Bahlil Lahadalia sudah bisa mendapatkan gaji Rp 35 juta per bulan saat pertama kali bekerja menjadi petinggi di perusahaan konsultan keuangan yang dibangun bersama teman-temannya.

Namun ternyata gaji puluhan juta yang diterimanya itu tak membuatnya puas untuk bisa mengembangkan karir bisnisnya. Baru setahun mendapatkan gaji Rp 35 juta, Bahlil memilih keluar dan kembali mencoba peruntungan kembali dengan membuat perusahaan baru.

Perusahaan yang digeluti Bahlil saat itu bergerak di sektor konsultan keuangan. dia menjadi petinggi di perusahaan itu dan mendapatkan gaji Rp 35 juta per bulan.

“Satu tahun itu saya bisa memberikan profit kepada perusahaan waktu itu Rp 10 miliar lebih. Itu profit, bukan omzet. Setelah itu saya mengundurkan diri,” kata Bahlil saat berbincang santai dengan mataradar, Fakak Jumat (7/5/2019).

“Saya mundur dari perusahaan itu, kemudian saya memberikan perusahaan pada teman-teman mereka yang lanjutkan. Saya mencoba untuk membangun perusahaan yang lain lagi, yang tidak di bidang yang saya bangun itu,” sambungnya.

Keputusan Bahlil untuk keluar dari zona nyamannya itu bikin teman-temannya heran, bahkan oleh sang kekasih yang kini jadi istrinya. Bahlil juga dianggap gila karena keputusannya itu.

“Banyak teman-teman yang bilang saya gila, hidup saya sudah aman nyaman, kok bisa mengambil resiko yang pada akhirnya jadi ‘monyet’ lagi, itu kan teman teman kuliah saya bekerja sebagai hina saya. Dan teman-temanku yang mengatakan saya gila,” kata dia.

“Termasuk istri saya sekarang. Dulu itu hampir putus gara-gara saya jadi gembel lagi. Jadi harusnya gaji saya Rp 35 juta, buat dia ekspektasinya sudah cukup begitu loh, hidup mewah nggak, menderita nggak, cukup,” tambahnya.
Walau begitu, Bahlil tetap memutuskan untuk membuat perusahaan bermodal penghargaan berupa dividen saham yang diterima dari perusahaan sebelumnya. Dia mendapat uang sebesar Rp 600 juta karena telah berjasa memberi keuntungan pada perusahaan sebelumnya.

Dengan alasan ingin mencari suasana baru, Bahlil kemudian mencoba kembali dari titik nol untuk membuat perusahaan di bidang trading kayu. Karena kembali dari awal, Bahlil harus bekerja ekstra untuk bisa mengembangkan perusahaan barunya.

“Saya waktu itu punya karyawan 4 orang, kita pikir gampang, itu ternyata nggak gampang juga itu jadi di bidang yang saya sudah kuasai di awal tiba-tiba pindah di bidang lain itu dari nol lagi. Akhirnya terpaksa saya naik ojek lagi. Pertama kontrak, sewa, uang habis naik ojek lagi kita, sekretariat berjalan lagi, bikin lagi,” kata dia.

Hingga akhirnya Bahlil bisa melewati masa-masa sulit dalam setahun. Bisnis barunya pun kemudian lancar dan terus berkembang.

“Tapi itu semua pilihan hidup menurut saya dan setiap hidup itu harus berani mengambil keputusan, kita tidak bisa masuk dalam bayangan yang tidak nyaman, saya ambil keputusan tapi itu kembali ya recovery saya itu hampir satu tahun. Nah sudah mulai kerja enak di situ tapi ya dihina orang juga. Kesuksesan itu tidak ada yang dicapai dengan cara yang mudah, terkecuali yang orang sudah punya,” tuturnya.

Kini Bahlil menjadi petinggi di sejumlah perusahaan. Dia juga mendirikan beberapa perusahaan dan menjadi Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia.

Berasal dari keluarga miskin tak serta-merta membuat Bahlil Lahadalia menyerah terhadap hidup. Bahlil yang benar-benar mengawali karir dari titik nol kini telah menjadi seorang pengusaha sukses.

Pria asal Fakfak Papua ini, pernah menjalani berbagai profesi untuk bertahan hidup sebelum menjadi sukses seperti sekarang. Mulai dari tukang kue semasa kecil, seorang kondektur, hinga menjadi sopir angkot pun dia jalani.

Dengan kerja keras yang dijalani semasa hidupnya, pria kelahiran 1976 ini kemudian bisa sukses hingga menjadi Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), yang selama ini dianggap jadi ‘perkumpulan’ anak-anak pengusaha dan pejabat.

Ada banyak cerita menarik yang pernah dijalani Bahlil sebelum menjadi sukses seperti sekarang. Bahkan karena saking miskinnya, Bahlil pun pernah juga merasakan sakit busung lapar.

Berbagai kisah Bahlil itupun diceritakan langsung kepada mataradar. Bagaimana dia yang terlahir dari keluarga miskin, hingga bisa mengubah nasibnya seperti sekarang dengan memiliki banyak perusahaan.

Diolah dari sejumlah sumber, pria kelahiran fakfak semasa SMA aktif di kegiatan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) hingga menjabat Ketua OSIS, dia pun tidak pernah terhindar dari segala perdebatan disetiap kegiatan apapun disekolah, Pusssiiiiiiing guru-guru mau atur dia,

Bawaan tersebut membuat bahlil terbiasa hingga ke tingkat perguruan tinggi, semasa kuliah Lahadalia berkecimpun di sejumlah organisasi dan aktif hingga ke tingkat pengurus pusat,

Himpunan Mahasiswa Isalm (HMI) misalnya mengantarkan dia untuk menguji dan terus mengasah kemampaun berargumentasi Intelektualnya diberbagai forum, ditambah lagi kemampuan ilmu pengetahuan yang baik,

Dengan segala keberanianya yang tak tanggung-tuanggung membuatnya bisa menduduki salah satu pengurus penting di PB HMI, dan pernah menjabat sebagai bendahara umum PB HMI,

Pada tahun 2015, kariernya sebagai pengusaha semakin lengkap saat Munas Himpungan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), peserta memilihnya menjadi Ketua Umum HIPMI untuk periode 2015-2018.

Editor: Rustam Rettob, S.AP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close