Juni 25, 2024
Muhammad Muqit dan Sahrul Aripin merupakan siswa berkebutuhan khusus yang berhasil meraih juara 1 dalam komputasi AWS.

Muhammad Muqit (17) dan Sahrul Aripin (19) merupakan siswa berkebutuhan khusus yang berhasil meraih juara pertama dalam kategori Best Design pada Cloud Computing Club Competition bertajuk “Laptop for Builders” yang diselenggarakan Amazon Web Services (AWS) di Kota Bandung, Jawa Barat.

Keetchen Space merupakan laman statis yang dirancang oleh Muqit dan Sahrul hingga mengantarkan keduanya meraih penghargaan dari AWS.

Dua siswa berkebutuhan khusus tersebut merupakan pelajar Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) A Citeureup, Kota Cimahi, Jawa Barat.

Muhammad Muqit adalah siswa yang mempunyai keterbatasan motorik dan komunikasi atau cerebral palsy.

Sementara temannya, Sahrul Aripin mempunyai keterbatasan penglihatan atau tunanetra.

Keterbatasan fisik yang dimiliki oleh dua pelajar tersebut tak menjadi penghalang bagi mereka untuk tetap menimba ilmu.

Sebelum meraih juara Cloud Computing Club Competition, kedua siswa tersebut mengikuti pelatihan yang diadakan oleh AWS.

Seusai mengikuti pelatihan, kedua siswa itu merancang sebuah laman dan karyanya berhasil menjadi juara kompetisi bergengsi di tingkat Jawa Barat tersebut.

Dibutuhkan waktu kurang lebih tiga pekan bagi Muqit dan Sahrul untuk merancang sebuah laman.

Buat Laman Statis untuk Pesan Makanan Dengan menggunakan laptop khusus, keduanya mampu membuat sebuah laman statis untuk pemesanan makanan dan minuman di cafe.

Ide pembuatan laman statis pemesanan makanan dan minuman itu digagas oleh mereka karena selama ini keluarga Muqit memiliki sebuah usaha rumah makan di Kota Cimahi.

“Jadi saya itu yang mengarahkan atau yang membuat konsep, kalau uang eksekusi itu sama Muqit.

Jadi awalnya kenapa bikin ini karena keluarga Muqit kan jualan makanan.

Dan kita ingin membantu penjualan usaha keluarga Muqit lewat desain ini (Keetchen Space),” kata Sahrul Aripin.

Di balik keterbatasan motorik yang dimiliki oleh Muqit, dia mempunyai kemampuan desain yang luar bisa.

Sementara Sahrul meski tak bisa melihat secara normal, namun dapat mengoperasikan komputer jinjing khusus braile.

Laman statis yang mereka buat menampilkan daftar menu dan harga makanan serta minuman di rumah makan atau restoran milik keluarga Muqit.

Dalam laman statis itu, ada tayangan makanan dan minuman dalam bentuk video.

Selain itu, laman statis ini juga memiliki fitur untuk pemesanan makan di tempat, dibawa pulang, atau pemesanan melalui kurir.

Keduanya, juga menyampaikan terima kasih kepada guru pembimbingnya, Irfan Pratama yang telah berupaya membimbing mereka di kelas XI.

Guru pembimbing dari Sahrul Aripin dan Muhammad Muqit Gupay, Irfan Pratama, mengaku bangga dengan capaian yang ditorehkan oleh kedua anak didiknya di ajang tersebut.

Ia mengaku tidak menemui kendala berat saat membimbing kedua murid saat merancang laman statis Keetchen Space.

“Saya hanya memberikan cara ke fitur-fiturnya.

Untuk visual sendiri, itu Muqit dan konsep dari Sahrul.

Jadi mereka berdiskusi dan konsultasi ke saya,” katanya.

Pendidikan Teknologi Inklusif Kisah sukses dua pelajar berkebutuhan sukses itu tak lepas dari peran serta penyedia infrastruktur dan solusi komputasi awan (cloud computing) AWS.

AWS kembali menyelenggarakan program pelatihannya yang bertajuk “Laptop for Builders” di Bandung, Jawa Barat.

Menggandeng Dinas Pendidikan Jawa Barat, Yayasan Sagasitas, dan Gerakan Pramuka Kwartir Jawa Barat, gelaran tahun ini menyasar anak-anak berkebutuhan khusus.

Hal tersebut sebagai bentuk komitmen AWS terhadap pendidikan teknologi yang inklusif dan merata untuk semua golongan, serta terhadap pemenuhan kesenjangan talenta cakap digital di Tanah Air.

Tahap pertama pelatihan ditutup dengan kompetisi dan ajang penganugerahan yang diadakan di Grand Hotel Preanger.

Laptop for Builders 2022 di Jawa Barat sukses melatih sekitar 150 anak-anak berkebutuhan khusus yang tergabung di sekolah luar biasa maupun pramuka, sekaligus instrukturnya masing-masing.

Melalui pelatihan yang disediakan AWS dan mitranya di bidang pendidikan kepada para instruktur, anak-anak diajarkan berbagai kecakapan teknologi yang bermanfaat untuk menghadapi masa depan yang semakin terdigitalisasi.

Country Manager Indonesia AWS Gunawan Susanto menjelaskan bahwa Indonesia masih memiliki kesenjangan talenta cakap digital yang cukup tinggi.

“Untuk dapat mengisi kesenjangan tersebut, kami melihat bahwa seluruh SDM harus dimobilisasi, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus,” katanya.

Gunawan meyakini bahwa anak-anak berkebutuhan khusus juga berhak atas pendidikan teknologi yang setara.

Ia percaya, pendidikan teknologi merupakan kunci bagi mereka untuk bekerja, berkarya, dan meniti masa depan yang lebih baik.

Pertama digelar pada 2021, Laptop for Builders merupakan program pelatihan unggulan AWS yang menyasar siswa-siswi sekolah menengah atas (SMA), sekolah menengah kejuruan (SMK), maupun pesantren.

Tahun lalu, program ini berhasil menjangkau lebih dari 200 sekolah di hampir 30 kota di seluruh Indonesia, serta pesantren-pesantren yang terafiliasi dengan PBNU melalui kerja samanya dengan Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdatul Ulama (RMI NU).

Pada Desember 2020, AWS membantu meningkatkan serta mengembangkan keterampilan cloud bagi sedikitnya 29 juta orang di seluruh dunia hingga 2025, melalui program-program tanpa dipungut biaya yang digelar di lebih dari 200 negara dan wilayah, termasuk Indonesia.

Hingga saat ini, lebih dari 300 ribu masyarakat Indonesia dari berbagai lapisan telah mengikuti program pelatihan yang diselenggarakan AWS bersama dengan pemerintah, lembaga pendidikan, dan para anggota AWS Partner Network (APN).

HUT ke-77 RI, Nathalia Jadi Konduktor Wanita Pertama Pimpin GBN di Istana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *