Juli 13, 2024
Orang yang tanpa alasan tiba-tiba merasa sangat ketakutan ketika dilihat atau kontak mata bisa jadi menandakan scopophobia atau skopofobia

Orang yang tanpa alasan tiba-tiba merasa sangat ketakutan ketika dilihat atau kontak mata bisa jadi menandakan scopophobia atau skopofobia.

Fobia ini membuat keengganan dipandangi orang lain.

Efek lainnya tak nyaman atau tidak mau berinteraksi dengan orang lain.

Orang yang mengalami skopofobia ingin menghindarkan diri supaya tidak diperhatikan.

Ia juga ingin menghindari tempat umum atau interaksi sosial lainnya.

Banyak orang dengan skopofobia memiliki kecemasan sosial yang menyebabkan menjadi lebih cemas dan menghindari interaksi sosial.

Merujuk Choosing Therapy, ciri gejala skopofobia antara lain: 1.

Kecemasan ekstrem, stres, atau ketaknyamanan terhadap kontak mata2.

Salah mengasumsikan orang lain sedang melihat atau menatap3.

Pikiran paranoid tentang diawasi, dilihat, atau diperhatikan oleh orang lain4.

Kekhawatiran berlebihan berada di depan umum atau berinteraksi dengan orang lain5.

Kesadaran diri ekstrem ketika dilihat atau melakukan kontak mata dengan orang lain 6.

Mengalami kesulitan hadir dan terhubung dalam interaksi sosial7.

Terlalu khawatir tentang wajahnya sendiri8.

Serangan panik atau gejala panik 1.

Kesulitan menyelesaikan tugas dan tanggung jawab yang diberikan di tempat kerja atau sekolah 2.

Sulit membentuk dan memelihara hubungan dengan teman, keluarga, atau pasangan kekasih 3.

Sulit pergi ke tempat umum untuk berbelanja, menjalankan tugas 4.

Sulit mencapai tujuan pribadi atau profesional penting yang ditetapkan untuk diri sendiri 5.

Susah melakukan kegiatan yang bermanfaat untuk kesehatan fisik dan mental, misalnya olahraga dan konseling 6.

Cenderung menganggap diri tidak memiliki kecerdasan, daya tarik, karisma, atau kepercayaan diri.

Menganggap orang lain akan selalu mengkritik atau mengejek kekurangan diri.

7.

Sulit menghadiri acara rekreasi dan kegiatan yang disukai.

Mengutip Verywell Mind penyebab skopofobia antara lain: 1.

Pengalaman traumatis, seperti diolok-olok dan diintimidasi orang lain.

2.

Ketakutan berlebih atas penilaian orang lain, seperti dikritik, dihakimi, atau ditolak.3.

Gangguan kecemasan sosial, misalnya ketakutan atau merasa tidak aman saat berpenampilan, berbicara, atau berinteraksi dengan orang lain.

Ikuti berita terkini dari Tempo di Google News, klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *