Juni 25, 2024
Keuntungan pertama dari self diagnosis adalah mengurangi biaya operasional datang ke dokter, selagi penyakit dapat disembuhkan sendiri.

Di zaman yang serba digital, informasi mudah ditemukan melalui internet.

Salah satunya adalah informasi mengenai kesehatan yang membuat seseorang mudah melakukan diagnosis terhadap diri sendiri mengenai keluhannya atau sering disebut self-diagnosis.

Padahal, informasi tersebar di internet seringkali tidak dapat dipertanggungjawabkan secara medis atau tidak evidence-based medicine.

Menghindari kerugian dari informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan itu, dibutuhkan proses pemahaman lebih detail agar tidak menerima informasi mentah-mentah.

Banyak orang menganggap bahwa self diagnosis dapat berpotensi buruk bagi kesehatan mental dan fisik seseorang.

Melansir highlandspringsclinic.org, alasannya perlu berbagai tahapan untuk dapat menegakkan diagnosis.

Proses diagnosis terbilang kompleks dan hanya bisa dilakukan oleh dokter.

Di balik itu, ada beberapa keuntungan dari kegiatan self diagnosis: Keuntungan Self Diagnosis Keuntungan pertama dari self diagnosis adalah mengurangi biaya operasional datang ke dokter, selagi dapat disembuhkan sendiri.

Laman hydac.com.aumenyebut bahwa self diagnosis mudah dan praktis untuk mengelola gejala sehari-hari.

Hal ini sekaligus menjadi kemampuan menangkap dan memperbaiki masalah potensial apapun sebelum menjadi masalah besar.

Melansir Healthline, orang-orang perfeksionis akan merasa perlu memperbaiki diri ketika ada sesuatu yang dianggap perlu diperbaiki dalam dirinya.

Sehingga ia memutuskan untuk menyembuhkan penyakitnya sendiri meski tanpa dokter.

Artikel ini bukan menyarankan self diagnosis, melainkan cara ini dibutuhkan untuk melakukan riset sebelum akhirnya memutuskan pergi ke dokter.

Berdasarkan jurnal From Self-Diagnosis to Self-Medication: Constructing and Identifying Symptoms (2011), mekanisme penyembuhan penyakit sendiri akan diawali dengan mengetahui tentang gejala yang dialami.

Tujuannya untuk mengobati diri sendiri karena pasien yang merasakan gejala itu, sehingga mampu menerjemahkan tanda tubuh menjadi gejala.

Ketika berkonsultasi dengan dokter untuk berobat, pasien akan membentuk opini tentang informasi yang dikumpulkannya.

Seperti misalnya pilihan pengobatan yang menjadi harapan mereka dari sebuah konsultasi.

Dokter akan mengartikan ulang dan menegakkan diagnosis mengenai gejala yang dialami.

FATHUR RACHMAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *